Peluang Investasi
Investasi Di sumedang

Di Publish Oleh Administrator 10 Mei 2016, 12:11:38 WIBKategori: Pemerintahan

Peluang Investasi


Pemerintah Kabupaten Sumedang membuka peluang selebar-lebarnya bagi investor yang berminat menanamkan modalnya di Kab. Sumedang, baik investor swasta maupun BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

Peluang investasi itu, sehubungan Kab. Sumedang memiliki berbagai potensi dan kekayaan sumber daya alam, terutama di bidang energi.

“Seandainya ada investor swasta atau BUMN yang mau berinvestasi di Sumedang, mudah saja tinggal ajukan proposalnya kepada bupati. Proposal permohonan izin investasi maupun hasil kajian dan penelitian teknis pekerjaannya,” tutur Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab. Sumedang, Eka Setiawan di ruang kerjanya di kantor Induk Pusat Pemerintahan (IPP) Pemkab Sumedang, Jln. Prabu Gajah Agung Sumedang, Selasa (10/6/2014).

Menurut dia, peluang investasi di bidang energi, salah satunya membangun PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) di hulu Sungai Cimanuk di Kec. Cibugeul.

Terlebih sebelumnya, pembangunan PLTA Cimanuk Hulu sempat dibuatkan konsep. Namun, karena konsepnya sudah lama dan terhenti oleh proses pembangunan Waduk Jatigede, sehingga sampai sekarang belum ditindaklanjuti.

“Kami berterima kasih jika ada investor swasta maupun BUMN yang sudah melakukan penelitian dan berminat menanamkan modalnya pada pembangunan PLTA Cimanuk Hulu. Apalagi jika investor itu sudah membuat kajian bahwa energi listrik yang dihasilkan mencapai 40 Mega Watt dan kontribusi ke PAD-nya Rp 20 miliar per tahun. Kalau investor itu benar-benar berminat, kami akan membuat programnya. Kami membuka selebar-lebarnya apabila ada yang mau berinvestasi,” kata Eka.

Mengingat konsep itu sudah lama, lanjut dia, sehingga perlu dilakukan pengkajian kembali terkait kondisi terkini. Pengkajian itu, di antaranya studi kelayakan pembangunan PLTA Cimanuk Hulu serta analisis teknis dan usahanya.

Selain itu, perlu dipertimbangkan juga kondisi sosial warga sekitar. “Kondisi masyarakat perlu diperhatikan. Sebab, karakter dan kondisi masyarakat dulu dengan sekarang jelas berbeda,” tuturnya.

Lebih jauh Eka menjelaskan, perlunya melihat kondisi masyarakat dinilai sangat penting. Jangan sampai, seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) dengan kapasitas 50 MW di Kec. Buahdua.

Rencana PLTPB itu hingga kini belum terwujud karena ditolak warga. Penolakannya, akibat lemahnya sosialisasi kepada masyarakat tentang teknis pembangunan PLTPB.

Padahal, PLTPB merupakan pembangkit listrik yang paling ramah lingkungan dibanding pembangkit lainnya. “Karena ketidakpahaman mereka tentang PTLPB, sehingga warga mudah terprovokasi dan ditakut-takuti. Takut, projek itu seperti kasus lumpur Lapindo,” katanya.

Padahal, di Garut ada beberapa PLTPB, seperti kawah Kamojang dan Darajat. Bahkan kapasitas listrik di kawah Kamojang mencapai 800 MW. Faktanya, sampai sekarang aman-aman saja, malahan dimanfaatkan juga untuk objek wisata air panas.

“Oleh karena itu, sosialisasi kepada masyarakat sangat penting sampai mereka betul-betul mengerti manfaat untuk kesejahteraannya maupun pembangunan daerah. Sekalipun ada dampak lingkungan, bisa dicari solusi dengan penerapan teknologi yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila setiap projek dengan investasi yang besar selalu ditolak warga tanpa memahami teknisnya, pembangunan di Kab. Sumedang tak akan maju.

Bahkan berbagai potensi dan kekayaan sumber daya alam, tidak akan termanfaatkan. “Kalau kondisinya seperti ini, Sumedang akan ketinggalan. Masyarakat akan gigit jari, ketika pembangunan di daerah lain berkembang pesat,” katanya